Beranda MotoGP Dilema Ducati: Motor kompetitif tapi minim podium.

Dilema Ducati: Motor kompetitif tapi minim podium.

Monsterbalap – Sampai saat ini mbah masih heran dengan apa yang di alami Ducati di musim ini, Motor kompetitif tapi jarang podium, Jelas ini hal yang konyol, lha gimana tidak,,, lha wong kedua pembalap Ducati saat ini hanya mengumpulkan total 48 poin gabungan dari keduanya.

Sebab gagalnya Ducati meraih podium adalah dari faktor pembalap sendiri,bukan Motornya, karena sejauh ini belum ada pembalap Ducati yang mengeluh tentang masalah motor.

Jelas ini sangat di sayangkan, yok mari kita coba flash back ke tahun-tahun sebelumnya biar gamblang, tahun 2013+2014 Ducati penuh dengan masalah, mulai dari mesin yang tidak tahan lama, sasis hingga understeer. Di saat itu Ducati benar-benar kesulitan,bahkan untuk naik podium pun merupakan sesuatu hal yang mustahil. Cepat di awal tapi lemot di akhir-akhir lap, yapp kata-kata (julukan) tersebut lah yang dulu selalu melekat dengan ducati.

2015, julukan tersebut perlahan-lahan mulai pudar, masalah utama mereka susah belok (understeer) pun sudah teratasi, katanya sih karena perputaran Rotasi crankshaftnya (kruk as) mereka di ubah ke arah ke belakang. Di tahun tersebut sudah mulai mendekati level Honda dan Yamaha meskipun hanya beberapa kali naik podium.

Di tahun ini? Aduhhh pucing pala bapak,,, lha gimana nggak pusing lha wong Motor udah kompetitif keq gitu kok masih ada saja problemnya, sumber problemnya dari pembalapnya pula,, wajar jika Gigi susah tidur!!!!

Qatar: Dovi poss 2, Ian dnf
Argentina: Dovi 13, Ian dnf
Austin: Ian 3 Dovi dnf
Jerez: Ian7, Dovi dnf
Le mans: Ian dnf, Dovi dnf
Waladalahhh makk ono opo iki,,?????

Itu semua karena apa? Yapp jelas karena pembalapnya!! Tahun 2013, 2014, 2015 Ducati sangat susah payah berjuang melakukan pengembangan, tahun 2016 bisa di katakan Ducati 90% sukses, tapi setelah jozzzz justru pembalapnya yang gagal membawanya ke atas podium.

Contohnya saat race Argentina, Dovi di ajak Ianone buat Sulapan bareng di last corner,last lap pula, yang di mana pada saat itu Ian terlalu maksa untuk mengambil Dovi dari posisi yang sangat sempit,di lihat dari ruang sudutnya pun mustahil jika Ian mampu, dan ternyata?? Crash!! Padahal podium sudah di depan mata.

Di Le mans, kedua-duanya sangat memaksakan diri. Ian sangat ngotot menangkap Lorenzo tanpa memperhatikan batas limit, Crash!! sementara Dovi berusaha keras mengikuti racing line Rossi untuk melibas GAP, Crash!! Nahh lhooo,, nak ngeneki sopo sing salah??

Disini mbah tidak serta menyalahkan pembalapnya lho yaa, ini cuma dari sudut pandang mbah saja. Jika seorang pembalap mempunyai jiwa kuat, mental juara, ambisius, agresif dan nekad, itu sangat bagus, tapi mbok yoo hati-hati tho ,,,

Membalap itu tidak hanya dengan cepat lhoo, tapi juga meliputi beberapa hal,yaitu Otak, strategi, dan yang pasti harus pakai perhitungan!!

Komentar dengan Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here